Busan-Seoul Trip : Day 4 (07 Januari 2012)


Nami Island, Lotte World, Seoul Tower, Myeongdong


On the wayyy..

Naek kapal penyeberangan menuju Nami Island

Morning, Seoul!! 
Meski 3 hari sebelumnya sudah lelah kesana-kemari di Busan dan Gyeong Ju, pagi ini semangat kami terbarukan karena kami akan ke NAMI ISLAND hari ini. YUP! Pulau ini sebenarnya adalah outdoor studio yang digunakan untuk shooting drama Korea yang paling terkenal pada jamannya, WINTER SONATA! Untuk memudahkan gerak kami hari itu, kami membeli single Journey ticket subway. Dari Hyehwa Station, pertama kami menuju ke Sangbong Station untuk ganti line subway menuju Gapyeong Station, stasiun terdekat ke Nami Island. Ya, sepertinya Gapyeong Station ini letaknya agak di luar kota Seoul. Well, dari Gapyeong Station ini ada beberapa alternatif yang bisa diambil untuk sampai ke gerbang Nami Island. Either you take a walk around 25 min (1,6 km) or 5 min by bus/taxi (kurleb 3000 KRW). Berhubung kami tak mau tepar di hari pertama, kami memilih naik bis saja. Namun bis menuju kesana tak sebanyak bis Nishitetsu yang datang hampir 5 menit sekali. Lama menunggu kami sempat berpikir untuk naik taksi saja, masalahnyaaa..kami fakir bahasa Korea, Sodara-sodara. Namun yang namanya rejeki tak kemana, tak lama datanglah sepasang muda-mudi menghampiri kami dan voila! mereka berbahasa Inggris. Usut punya usut, mereka adalah mahasiswa dari Taiwan yang sedang liburan ke Korea juga. Si cewek ini mahir berbahasa Korea, sayangnya mereka juga *travelerkere yang ingin semuanya serba hemat mat mat mat!! Mereka pun menawari kami untuk naik taksi bersama-sama sehingga biayanya lebih murah!! YIPPI!! Maka nikmat Alloh yang mana lagi yang kamu dustakan, kawan? Tak berlama-lama kami pun hok oh hok oh ngangguk dan segera menuju ke taksi yang parkir di depan Gapyeong Station. Intinya sih, kalo kamu budget traveler dan fakir bahasa, pasang tampang bingung dan pah poh maka akan banyak bantuan datang menghampirimu. Wkwkwkwkwkkk!! Ini jurus pernah juga dipake waktu kami liburan musim panas ke Tokyo tahun sebelumnya. Terbukti ampuh, Sodara-sodara! 

Belum sempat kami ngobrol lebih banyak, tau-tau kami sudah sampai di gerbang Nami Island. Dan disitulah kami berpisah. Masak iya kami berempat mo runtang-runtung kayak tour group gitu. Lagian mereka kan pacaran, lha kitah?? Ah sudahlah tak usah dibahas, bikin hati makin galau. Untuk sampai ke Nami Island, kami harus melewati gerbang imigrasi dulu karena Nami Island sepertinya di-set sebagai “republik terpisah”. Kami harus beli tiket, mereka menyebutnya visa sebesar 8000 KRW dan naik kereta feri menuju pulau kecil di seberang sana. Yang menarik, feri ini dilengkapi dengan bendera-bendera negara yang punya hubungan diplomatik dengan Korea, termasuk Indonesia. Menginjakkan kaki di tanah Nami masih belum kebayang seperti apa isinya. Makin masuk dan masuk, isinya sih smacam miniatur kota dengan segala fasilitasnya. Bahkan ada money changer juga. Terdapat beberapa spot yang konon sering muncul di drama. Sayangnya, dulu saya ga gitu hobi nonton dramanya. Diah lah yang sempat nonton pas waktu mo brangkat ke Korea. Hahaha, alasannya sih biar lebih dapet soul-nya pas udah di Nami. Jadinya ya Diah lah yang jadi tour guide pribadi saya menjelaskan kronologis adegan demi adegan disitu. Saya lebih antusias foto-foto sama bongkahan es dan salju yang tersisa bekas hujan salju beberapa hari yang lalu. Ndeso yo ben!! Karena saya pikir, kapan lagi saya bisa ngrasain salju? Di Fukuoka dipastikan tak akan ada salju di musim dingin ini (nyatanya sih salah, sepulang dari Korea, Fukuoka bersaljuuu!! Meski hanya 2 hari). Diah yang sudah khatam dengan salju waktu di Hokkaido dengan sabar melayani nafsu narsis saya dengan salju. Feel blessed having you as my partner, Dee!! Yang sabar yaa!! #pukpuk. 


Selamat datanggg!

Landmark khas Nami deh kayaknya..

Maenan salju, literally! #ndeso


Selain bongkahan es dan spot drama, vandalisme yang ada di Nami Island juga menarik perhatian saya. Ternyata orang Korea cukup vandal ya. Terbukti dimana ada area kosong, terdapat coretan-coretan yang saya ga tau pasti apa isinya. Beberapa kali juga sempat membaca tulisan orang Indonesia nangkring disana. Ini sih ga heran saya! Selain itu, pemandangan yang makin bikin keki adalah banyaknya pasangan yang pake baju couple riwa-riwi di sekitar kami. Iya sih, ini Korea! Tapi tapi tapiii.. gatau apa kami ini sepasang cewek yang galau karena lama tak ketemu pacar??!! Hahahaha.. Dan tanpa terasa, hari mulai gelap, kamipun memutuskan kembali ke Seoul, menuju ke Lotte World!! Yeyyyy!! Begitu sampai di depan gerbang Lotte World, semangat kami turun melihat penampakan depannya. Dengan harga setengah hari yang 15.500 KRW, rasanya kok kurang worth to try. Akhirnya diputuskan untuk batal masuk dan makan aja food court dekat Lotte World. Minimal udah sampai depannya lah yaa! Saat antri tiket balik, samar-samar terdengar Nihonjin ngobrol. Dari beberapa kata yang sempat kami tangkap, mereka bingung cara beli tiket subwaynya gimana. Oh my.. ternyata ga cuma kami yang fakir bahasa. Padahal ada petunjuk bahasa Jepangnya lho di mesin tiket. Dengan bahasa Jepang kami yang cukup belepotan, kamipun menawarkan bantuan *merasa ga pah poh kali ini, yeay! 

Batal masuk Lotte World, kami pun tak patah arang dan melanjutkan perjalanan menuju ke SEOUL TOWER! Atau sering juga disebut Namsan Seoul Tower karena letaknya ada di daerah Namsan. Disini kami sudah janjian bertemu dengan teman Korea Maysa. Maysa memberikan mandat kepada kami untuk menyerahkan uang seribuan ke doi sebagai kenang-kenangan. Ini adalah misi penting kenegaraan!! Hahaha. Singkat cerita, kami akhirnya bertemu dengan orang Korea ini (aku bayangin wajahnya ga bakal jauh dari personel Suju atau Rain lah, dan faktanya ga jauh sih emang). Dan sebagai tanda pertemanan, tiket masuk Seoul Tower pun dibayari oleh si doi. Ngalkamdulillah!! Rejeki lagiii!! Tiket seharga 14.000 KRW ini sudah termasuk paket yang meliputi ruang observatorium di atas dan Teddy Bear museum. Di Teddy Bear museum ini digambarkan secara lengkap sejarah Korea sejak jaman kerajaan hingga masa kini. Ini yang punya ide siapa sih, bisa se-detail dan se-keren ini? Namanya juga Teddy Bear Museum, jadi isinya adalah smacam diorama yang diperanin oleh boneka beruang kecil. Puas di museum, kamipun naik ke ruang observatorium. Dari atas sini bisa dilihat landscape Seoul, dengan warna-warni lampu yang memukau siapapun yang melihatnya *agaklebay*. Emang bagusnya kesini malam hari, lebih romantis. Di beberapa tempat ada tulisan yang mengarah ke berbagai ibukota negara di dunia seperti Tokyo berikut dengan jaraknya dari Seoul. Bahagia rasanya melihat Jakarta ada di deretan tulisan itu. Minimal kita dikenal sih oleh orang luar *ya menurut ngana??!! Di banyak sudut terdapat spot untuk para pasangan yang ingin menikmati suasana romantis di tower ini. Di beberapa lokasi juga khusus disediakan “area-ekspresi” dimana kamu bisa beli smacam keramik magnet kecil untuk diberi tulisan dan ditempel di dinding-dinding yang sudah disediakan. Kalo mau yang agak romantis, ada area “Gembok Cinta” yang udah terkenal itu. Sayang, karena Seoul Tower hanya buka sampai jam 11 malam dan teman Korea kami sudah agak lelah karena seharian bekerja, kami pun memutuskan untuk keluar dan berpisah. Tapi kami masih sempat berjanji untuk bertemu lagi sebelum balik ke Fukuoka. 


Jadi inget Janggem


Alih-alih kecapekan dan kembali ke hostel, kami tak mau rugi bandar. Dari Seoul Tower, kami nekat menuju Myeongdong, sekedar jalan-jalan malam *padahal kaki udah ga berasa kaki lagi!! As we expected, ini area isinya hampiiirrrr toko kosmetik semua, mulai dari Etude, Nature Republic, The Face Shop, Holika Holika, dsb. Untungnya kami bukan penggila kosmetik jadi ya hanya menikmati suasananya saja. Hal menarik yang kami temui disini adalah saat melihat mbak-mbak Korea dengan PD-nya memakai short skirt di musim dingin seperti sekarang. Itu SUGOI sekali lho, Mbak!! Kami aja pake baju lapis 3 dan syal, sementara ente? Waow!! Kupikir ga kedinginan, tapi ternyata saat jalan sama temennya, pelukan juga sambil usap-usap lengan tanda kedinginan. Howalahhhh mbak, nek ntar masuk angin gimana coba??! Menjelang tengah malam, kami pun menyerah dan kembali ke hostel setelah sebelumnya membeli mie instan di toko 24 jam. Itadakimasu!! 




Ckckckckk, itu pasti semriwingggg sekali!

Busan-Seoul Trip : Day 3 (06 Januari 2012)


Gyeong Ju City (Seokguram Temple, Bulguksa Temple), BIFF for dinner, Seoul by KTX

Memanfaatkan fasilitas hostel, sarapan kami lakukan di dapur hostel. Roti bakar 2 porsi dan 2 gelas susu. Surga duniaaaa!! Untuk plan hari ini adalah menuju luar kota which is di daerah Gyeong Ju City. Saat kami ceritakan rencana itu kepada sesama penghuni hostel di malam sebelumnya, mereka meragukan “kekuatan” kami. Katanya itu terlalu jauh, nanti pasti kecapekan – apalagi kalo masih harus ke Seoul, bla bla bla.. Embak-embak asli Korea ini belum tahu kalo kami pernah jalan kaki dari Glover Garden menuju Peace Park di Nagasaki. Jadi, rencana ke Gyeong Ju ini dengan yakin kami jalani. Berbekal semangat juang 45, kami berangkat ke stasiun subway, menuju terminal bis. Agak kaget begitu tiba di terminal karena pemandangannya ga beda jauh ama terminal-terminal di Indo, cuma lebih bersih dan lebih tertata. 
Terminal, jurusan Gyeong Ju



Sampai di Gyeong Ju City, kami harus berganti bis lagi menuju ke Seokguram Temple dan Bulguksa Temple yang ternyata ada dalam satu jalur paket perjalanan. Macam Candi Prambanan dengan Candi Boko gitu lah! Dan tibalah kami di Seokguram Temple disambut bongkahan-bongkahan es bekas salju yang turun beberapa hari yang lalu. Usai beli tiket, kami langkahkan kaki dengan ringan menuju temple. Semenit, dua menit, bermenit-menit berlalu tapi sesosok temple itu belum juga terlihat. Ini udah kek perjalanan ke Barat mencari kitab suci aja!! Berjalan dan berjalan, berasa menyusuri jalan tak berujung.. FYI, temple ini ada di puncak bukit dan jalannya masuk macam ke hutan gitu. Herannya, kenapa temple ini begitu famous dan menjadi tempat yang wajib dan tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Gyeong Ju. Menurut ane sih lebih bagusan Candi Boko kemana-mana. Dan benar saja, begitu kami sampai, temple ini hanya terdiri dari beberapa “rumah” atau bangunan khas Korea dengan hiasan warna-warninya. IMHO, nothing interesting kecuali “sudut pesan” dimana kamu bisa nulis apa aja di sebuah genteng khas Korea.. dan bayar!! Ini yang bikin males sebenernya, tapi kok ya sayang udah jauh-jauh kagak ninggal jejak. 


Bangunan gerbang Seokguram/Seokgulam Temple

Di tengah perjalanan mencari kitab suci


Pesan dan kesan di atas genteng

Bulguksa Temple

Dari Gyeong Ju, kami menempuh perjalanan panjang menuju BIFF (again) untuk makan malam. Kali ini kami mau mencoba masakan ayam yang sudah direkomendasikan oleh teman di hostel. Letaknya dekat pintu masuk BIFF depan Jagalchi Market. Kami pesan yang kering dan yang basah. Ayam goreng kering ini bumbunya nendang banget! Macam ayam goreng pedas di Lawson. Kalo yang basah dicampur dengan smacam makanan dari tepung khas Korea. Ahhh, kelamaan kalo harus perhatiin ayamnya lama-lama, udah lapeeeerrr!! Kenyang maem, kami pun dengan semangat 45 kembali ke hostel untuk istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan menuju Seoul dengan Shinkansennya Korea, KTX. Sesampainya di hostel, kami sempatkan untuk mengambil foto semua sudut hostel unyu ini. Sambil internetan *dan makan* gratis. Pukul 19.30 waktu Busan, kami sudah berada di Busan Station dan siap menuju Seoul Station!! SEOUL, here we come!! Pukul 22.30 kami pun sampe di Seoul Station dan segera naik subway menuju Hyehwa Station, stasiun terdekat menuju hostel kami. Dari Hyehwa Station, kami menuju Mr. Sea Backpacker Hostel yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Murah!! Dan teparlah kami malam itu!




Busan-Seoul Trip : Day 2 (05 Januari 2012)


Beommosa Budhist Shrine, BIFF, Jagalchi, Rainbow Bridge

Pagi hari, dengan semangat terbarukan, kami mendaki gunung Geumjeongsan dimana Beommosa Temple berada. Katanya sih ini destinasi wisata yang wajib dikunjungi karena usianya yang sudah ribuan tahun. Disini kami temui berbagai ornamen khas Korea seperti bola warna-warni seperti yang di drama-drama kolosal Korea. Dengan segala kemajuan teknologi yang dimiliki Korea, disini juga terdapat photospot yang bisa terhubung dengan email sehingga hasilnya bisa kita miliki dalam bentuk softfile. Kenapa Indonesia tidak bisa? 


Bis nya ga beda jauh ama Om Sugiwa yang di Fukuoka :D



Khasnya Korea, warna-warni lentera

Hasil narsis di Beommosa yang dikirim ke email
 Puas bermain di gunung, kami kembali ke Busan menuju Busan International Film Festival. Perhelatan ini sih sudah lewat sebenarnya, tapi spotnya malah menjadi tourism destination yang cukup menjanjikan. Semacam Malioboro lah yaaa.. Banyak yang jualan sepatu, tas, syal, dan pernik-pernik khas Korea dengan harga yang murah meriahhhh!! Menjelang malam, kami menuju Jagalchi Fish Market, udah tutup sih, cuma tujuan utamanya adalahnya Rainbow Bridge. Dingin sih malem-malem ke tepi pantai, namun semua terbayar dengan pemandangan mengagumkan dan cuaca yang cerah di tepian Rainbow Bridge. Puas memanfaatkan fasilitas digital disana, mata kami tertuju pada Starbucks Cafe tak jauh dari tepian pantai. Such a nice spot, no? Malam itu benar-benar diakhiri dengan sempurna.


Salah satu sudut BIFF

Rainbow Bridge

Ini photospot yang di Rainbow Bridge, Unyuuuhhh..


Busan-Seoul Trip : Day 1 (04 Januari 2012)


Hello, everyone!!

Akhirnya setelah agak lama menghilang dari peradaban untuk urusan nikahan dan newly wed-life, saya datang lagi dengan cerita tentang liburan kami ke Korea, setahun yang lalu. Semoga tidak banyak yang tercecer..



Pamer tiket promo :D

Fukuoka Airport, Gimhae International Airport, Busan, Yongdusan Park

Siang itu kami lari2an bawa koper segede gambreng ke Korean Embassy untuk ambil visa yang sudah dimasukkan hari sebelumnya. Ngucapin terima kasih berkali-kali ke staf embassy atas kebaikan hatinya mengeluarkan visa bagi kami, fakir traveler yang hanya bisa memanfaatkan tiket promo pesawat. Wkwkwkwkkk.. Sebelum boarding jam 19.20 WBF, kami habiskan waktu sambil menggelandang ria di Fukuoka airport, beli bento di konbini.. dan foto2 narsis.. Dan benar saja, berhubung itu tiket promo, jangan harap dapat tempat yang sesuai bayangan. Tau dimana kursi kami? Yak, di deretan paling belakang, which is agak sempit. Tapi tak apalah, dengan waktu tempuh yang hanya 30 menit, itu lebih dari cukup. Untuk itu, ga heran kalo snacknya juga “Cuma” air mineral dari sumber mata air Jeju dan sebuah Onigiri ala Korea.. :D

Sudah tertarik dengannya sejak di Bandara :)

Sampai di Gimhae Int’l airport sekitar pukul 20.50.. Langsung ke bagian informasi karna konon katanya hp jepang kita bisa di-adjust ke provider Korea, namun entah karena kami yang salah info, atau embaknya di bagian informasi ga paham dengan maunya kita, keinginan adjust hp tinggal keinginan. Meski agak kecewa, kamipun segera keluar dari bandara dan mencari stasiun kereta transit ekspres untuk selanjutnya disambung kereta biasa menuju ke penginapan. Tidak seperti di Fukuoka, mesin tiketnya agak berbeda pada bagian petunjuk penggunaan yang membuat kami agak cengong di awal. Sampe2 ada bapak2 yang menawarkan bantuan tapi yatta, kami sudah bisa *dengan perjuangan panjang tentunya*. Bukan tiket kertas seperti biasa, tapi untuk Busan Gimhae Light Rail Transit ini tiketnya berbentuk koin. Unyu yaaaa!! Sampai di stasiun metro bawah tanah, kami bergegas menuju mesin tiket untuk beli tiket menuju Jungang. Kebingungan kembali melanda tatkala mesin tidak mau menerima uang kertas yang kami masukkan *lalu ada tulisan besar2  : FAKIR BAHASA DIPELIHARA OLEH PENDUDUK SETEMPAT..wkwkwkwk.. Baiklah, singkat kata kamipun sampai di Jungang, dengan sisa-sisa tenaga setelah berpikir keras memecahkan sandi Hangul dan Bahasa Inggris yang sulit diterima *ngeles. Keluar dari stasiun bawah tanah, terlihatlah tulisan Mint House, ahh, pintar sekali mereka mencari lokasi.


Pah poh di depan mesin ini, ndesoooo ancen e..

Cuma buat koin ini *tepok jidat



Mint House Hostel adalah hostel for Women only. Tempatnya bener-bener super cute, girly banget dengan segala pernak-perniknya. Hommy sekaliiii.. *krasan. Sejujurnya sih karena fasilitas free susu sama makanannya. Hahaha *mental kere. Setelah berhaha-hihi sebentar dengan penghuninya, kami tak mau melewatkan malam pertama kami di Busan. Menjelang tengah malam, kami nekat menembus dinginnya suhu bulan Januari dan berjalan kaki menuju Yongdusan Park yang hanya beberapa meter dari penginapan. Kelaparan yang melanda memaksa kami untuk membelokkan kaki ke G25, sejenis Lawson ato Sevel. Jajanan murah meriah ala budget traveler.


Yongdusan Park


Mint House yang hommyyyyy!!

Tempat Wisata di Fukuoka, Jepang (Part 1)

.....

"eh, kamu exchange di Jepang dimananya?"
"Fukuoka"
"hah?! Fukuoka? Bahaya dong, itu khan deket pembangkit nuklir, radiasi lhooo!"
(uhmm, mari liat peta deh! Jangan buru-buru nyahut kalo belum tau faktanya ^^)

Peta Jepang, diambil dari sini.
Gimana? Udah jelas dong ya dimana FUKUOKA dan dimana FUKUSHIMA (which is deket-deket Sendai di atasnya Tokyo). Pertanyaannya sih ga salah, dibandingkan dengan kota-kota lain seperti Osaka, Kyoto, apalagi Tokyo, Fukuoka emang hanya kota kecil di pulau Kyushu. Tapi konon katanya, Fukuoka-lah yang menjadi kota paling penting di pulau Kyushu. Kota pelabuhan sekaligus kota yang paling dekat dengan Korea Selatan. Dari Fukuoka, Korea bisa dijangkau melalui 2 jalur, udara (30 menit) atau laut menggunakan Beetle Ferry (2 jam).

Trus, apa aja yang ada di Fukuoka?

Uhmmmm, banyak!! Dan untuk itulah saya disini, belajar bagaimana masyarakat Jepang, khususnya Fukuoka, memelihara tradisi leluhur mereka di negara yang konon katanya serba high-technology ini. Berbicara masalah tempat wisata, sepertinya Fukuoka memiliki segalanya! Mulai dari wisata alam, wisata belanja, wisata budaya, wisata edukasi, hingga wisata religi. Mari kita telanjangi satu-satu (sejauh yang saya tau lho yaaa!)

1. Wisata Alam
Kalau Anda adalah penyuka pantai, silahkan pergi ke daerah Momochi Seaside Park. Selain pantai dengan hamparan pasir putih dan view sunset yang cantik, di kasan ini juga ada Fukuoka Tower. Dengan membayar 600 yen (sekitar 60ribu rupiah) Anda bisa naik ke tower ini dan melihat landmark Fukuoka dari atas.


Momochi dengan Fukuoka Tower di malam hari

Momochi di senja hari

Selain Momochi, pantai yang paling sering saya dan kawan saya kunjungi meski hanya untuk duduk-duduk makan sambil menikmati sunset adalah Kashiihama Beach. Terletak di samping pusat perbelanjaan Aeon daerah Kashii, pantai ini memang tidak sebagus Momochi, tapi sunsetnya pun tak kalah mengagumkan, apalagi di musim panas.
Summer Asia Party, Kashihama Beach

Pantai ketiga yang sempat saya nikmati sunsetnya adalah pantai di kawasan Shikanoshima Island. Pantai ini menjadi sangat menarik karena ada dua pantai yang saling membelakangi dan hanya dipisahkan oleh jalan raya yang menghubungkan antara pulau dimana Fukuoka berada dengan pulau kecil bernama Shikanoshima. Sepintas memang seperti terletak dalam satu pula, tapi tidak. Yang paling saya sukai saat menghabiskan waktu di pantai adalah karena untuk masuk, tidak perlu bayar alias free admission fee. Emangnya pantai di Indonesia yang harus bayar? #jleb
Senja di Shikanoshima

Wisata alam lain yang terdapat di Fukuoka antara lain taman kota dan taman bunga. Tidak jauh dari Shikanoshima Island (satu/dua bus stop sebelumnya) terdapat Uminonakamichi Park and Zoological Garden. Sudah pernah saya bahas juga disini. Dengan hiasan pohon sakura di kanan-kiri pintu masuk taman ini menjadikan Uminonakamichi menjadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu dan mengabadikan musim semi. Dengan tiket masuk 400 yen, saya sudah bisa menikmati hamparan luas bunga Tulip (karena saat itu musim semi) dan beberapa jenis bunga lain yang tentu, tidak pernah saya liat di Indonesia. Karena luasnya taman yang juga memiliki kebun binatang di dalamnya ini, pengunjung disediakan sepeda sewaan yang biaya sewa per jam nya saya lupa (pokoknya mahal). Jadi bisa berkeliling taman dengan menggunakan sepeda, atau bisa juga naik kereta-kereta tanpa jendela yang juga sudah disediakan. Naiknya? Ya bayar dong!! Hahaha..Di tengah-tengah taman terdapat ferris wheel dan taman bermain untuk anak-anak. Tak jauh dari ferris wheel ada food court yang menyediakan berbagai masakan, termasuk es krim!! Ya! Hampir di semua objek wisata di Jepang selalu menawarkan es krim dengan rasa yang berbeda-beda di tiap lokasi, sesuai bahan yang dihasilkan oleh daerah masing-masing.


Cuma Uminonakamichi? Tentu tidak! Bagi yang suka gratisan (kayak saya), maka ada Ohori Koen yang letaknya lebih dekat dengan pusat kota, Tenjin. Ohori Koen ini merupakan sebuah danau (yang sepertinya buatan) dimana kita bisa menemukan pasangan yang sudah renta duduk berdua di bench di pinggir danau. So sweet bukan? Beberapa orang juga sering melakukan jogging sambil membawa hewan kesayangan mereka. Ohori Koen juga merupakan satu-satunya taman dimana terdapat gerai Starbuck di dalamnya. Waow! Itu keren menurut saya. Karena berbeda dengan Uminonakamichi, di Ohori Koen tidak terdapat food court. Ohori Koen juga merupakan spot paling ramai saat ada perhelatan Kembang Api atau HANABI kalau orang Jepang menyebutnya. Di musim panas, biasanya sekitar bulan Juli-September, ada festival kembang api yang gedenya, GEDEEE banget! Entah berapa milyar pemerintah Fukuoka menghabiskan dana untuk itu. Pada festival ini, biasanya penonton akan berbondong-bondong datang bersama pasangan, keluarga, atau rekan-rekannya dengan mengenakan pakaian tradisional yang disebut YUKATA. Saya pun berkesempatan juga untuk menikmati gegap gempitanya hanabi di Ohori Koen ini tahun lalu.
Ohori Koen (taman Ohori)


Ada lagi? Hemmmmm, bagi saya Fukuoka emang ga ada matinya!! Masih ada Nokonoshima Island Park. Untuk menuju ke pulau ini, harus naik feri bernama Flower Noko dulu dari terminal feri Noko Tosenji dengan tiket feri PP sebesar 220 yen. Dari port feri yang ada di sisi Nokonoshima, masih harus naik shuttle bus menuju lokasi. Dengan admission fee sebesar 1000 yen, kawasan ini sebenernya hanya bagus dikunjungi saat bunga Cosmos mekar (sekitar bukan September-Oktober). Selain di musim itu, cukup mengecewakan.
Sebenarnya masih banyak taman atau lokasi wisata alam lain yang worth to see, tapi sayangnya belum sempat kami explore lebih jauh.

2. Wisata Belanja
Eaaaaa.. Yang namanya cewek, udah pasti nih kalau urusan mall, shopping, atau sekedar window shopping jadi agenda rutin. Kawasan paling terkenal dan paling ramai cewek-cewek tak lain dan tak bukan TENJIN!!! #backsong lagu penyeberangan!! Di kawasan Tenjin ini ada beberapa pusat perbelanjaan seperti Mina (ada Uniqlo di dalamnya), lalu Tenjin Core (ada toko awul-awul di lantai paling atas :D), lalu di bawah tanah ada Tenjin Chigakai (ada Krispy Kreme yang suka bagi-bagi donat gratis), dan yang paling ga pernah kita singgahi untuk belanja melainkan numpang ke toiletnya yang mewah adalah PARCO.
Di belakang Parco, ada Tenjin Shintencho yaitu kawasan toko-toko yang menjual barang khas macam kimono dan makanan ringan. Lengkap khan?? Kurang? Ada Marinoa City dengan ferris wheelnya di tepian Marinoa Bay. Juga tak ketinggalan Canal City.
Marinoa City

Sudah habis? Masih banyakkkkkk, cuma yang wisata belanja sampai sini aja yak.. Postingan berikutnya akan membahas pilihan wisata lain yang ada di Fukuoka.